Rumus Einstein Menjawab Soal ‘Omon-Omon Janji 2 Juta untuk….’
Sore itu di warung kopi pinggiran, sinyal internet sedang kumat—sebentar ada, sebentar hilang, persis janji kampanye. Di pojok warung, Mbah Schrödinger asyik menyeruput kopi pahit bareng Mbah Albert Einstein. Mata mereka tertuju ke layar TV butut yang menampilkan pejabat necis di atas limosin mewah. Si pejabat tertawa lebar sambil memamerkan tumpukan karung duit dan berteriak, ” KENAIIKAN GAJI 2 JUTA UNTUK ….!”
Di luar warung, pemandangan aslinya jauh lebih miris. Seorang kakek berbaju robek mati-matian mengayuh sepeda bututnya. Tepat di depan hidungnya, sebuah wortel raksasa bertuliskan “Wortel Rp2 Juta” berayun-ayun. Sebuah tangan gaib yang melayang di kabel memegang tali wortel itu dengan santai.
Mbah Schrödinger menyenggol Einstein. “Lihat itu, Al. Itu namanya Quantum Entanglement. Di negaraku, aku memakai teori itu untuk menjelaskan partikel yang terikat, tapi di sini politisi memakainya untuk mengikat nasib rakyat dengan janji manis. Begitu si pejabat mengucap ‘ kenaikan gaji 2 Juta’, harapan si kakek langsung bergetar kencang, padahal isi dompetnya tetap kosong melompong.”
Einstein membetulkan letak kacamatanya, lalu terkekeh kecut. “Ah, Erwin, itu lebih ke Relativitas Janji. Bagi orang di dalam limosin, waktu setahun itu singkat, mereka bisa bilang ‘sabar, masih proses’. Tapi buat kakek yang mengayuh sepeda itu, sedetik menunggu gaji naik berasa kayak seribu tahun!“
Mbah Schrödinger -fisikawan yang terkenal gara-gara eksperimen kucing dalam kotak itu – hampir tersedak gorengan. “Tapi juaranya tetap si wortel, Al. Itu namanya Wortel Schrödinger. Persis kayak kucingku yang bisa hidup dan mati di saat yang sama sebelum seseorang membuka kotaknya. Wortel Rp2 juta ini punya status ‘ada’ di berita TV, tapi ‘nggak ada’ di dapur si kakek. Kesejahteraan yang hanya berupa bayangan!“
Mbah Einstein manggut-manggut, lalu mulai mencoret-coret meja warung memakai arang gorengan.
E = mc².
“Politisi Konoha ini ternyata jago fisika, Win. Mereka menemukan rumus energi baru: E = mc². E itu Endorsement (dukungan), m itu Masyarakat yang lagi susah, dan c itu Cangkem (mulut) yang kerjaannya cuma omon-omon. Semakin lebar mulut mereka bicara, semakin besar dukungan yang mengalir, biarpun rakyatnya makin lemas menahan lapar.”
Tiba-tiba, tangan gaib di atas menarik tali wortelnya lebih tinggi. Si kakek hampir terjungkal karena gagal menangkap umpan itu.
“Nah, lihat!” seru Schrödinger. “Fungsi gelombang harapannya baru saja ambyar. Si kakek akhirnya sadar kalau sistem yang melayang-layang tak membumi itu sedang mem-prank dirinya.”
Mbah Einstein berdiri, menaruh recehan untuk membayar kopi, lalu bergumam pelan. “Erwin, di dunia ini tak ada yang pasti selain kecepatan cahaya dan betapa tidak nyambungnya politisi dengan harga beras. Ayo pulang, sebelum internet warung ini mati total dan kita terjebak di dimensi omon-omon selamanya.” ***GR


