Bahas Data Pemilih di Wilayah Mobilitas Tinggi
REDAKISIBALI.COM – Gimana jadinya kalau data di KTP ternyata beda jauh sama kenyataan di lapangan? Masalah “klasik” tapi krusial ini baru aja dikupas tuntas dalam acara daring Bedah Opini Gotong Royong via Zoom, Jumat (16/1/2026). Acara jadi asik dengan dipandu sama Sibro Mulissyi
Anggota KPU Badung, Ni Putu Rulyana Kusuma Wardani, bawa studi kasus yang menarik banget dari Kelurahan Tuban. Lokasinya yang deket bandara dan pusat hype pariwisata bikin mobilitas penduduk di sana super tinggi. Efeknya? Muncul “jurang” lebar antara data di atas kertas sama realita.
“Kita pakai sistem de jure, artinya pemilih didaftar sesuai alamat e-KTP. Tapi faktanya, di daerah kayak Tuban, banyak orang yang secara hukum masih terdata di sana, padahal rumahnya sudah berubah jadi hotel, villa, atau malah sudah kosong karena orangnya pindah tanpa laporan,” curhat Rulyana.
Gara-gara ini, muncullah fenomena seram yang namanya “Ghost Voters” alias pemilih hantu. Namanya ada di daftar, tapi orangnya nggak kelihatan pas mau dicari (Coklit). Secara hukum, nama mereka nggak bisa asal hapus gitu aja tanpa dokumen sah. Ini bener-bener jadi ujian buat KPU biar data tetap akurat meskipun “fisik” bangunannya sudah nggak ada.
Menanggapi hal ini, I Wayan Gede Sutirta (akrab disapa Zola Sutirta) dari Bawaslu Gianyar ngasih perspektif dari sisi hukum. Ternyata, sistem de jure ini sebenernya dibuat buat jagain hak kita.
“Sistem ini fungsinya biar hak pilih kita nggak dihapus sembarangan sama petugas. Kalau kita cuma pakai data ‘katanya’ atau faktual tanpa standar jelas, yang ada malah petugas bisa subjektif dan hak pilih warga jadi terancam,” kata Zola.
Intinya, diskusi ini nyimpulin kalau buat beresin masalah ini, kita nggak cuma butuh sistem yang oke, tapi juga kesadaran kita semua buat tertib administrasi. Jangan mager buat update data kependudukan kalau pindah domisili, ya!
Inget pepatah hukum keren ini: “Omne Systema Suun Habet Vulnus” -setiap sistem pasti punya celah, tapi tugas kita bareng-bareng buat tutup celah itu demi pemilu yang berintegritas.(GR)



