Nyala Demokrasi Tetap “On” Meski Hiruk-Pukuk Pemilu Sudah Lewat
REDAKSIBALI.COM – Biasanya, kalau pesta pemilu sudah bubar, orang-orang bakal lupa sama urusan demokrasi. Tapi bagi Bawaslu Bali, ini justru fase “ujian” yang sebenarnya. Di masa tenang pascapemilu inilah kesadaran warga lagi diuji. Apakah pengawasan bakal ikutan “tidur” atau tetap terjaga.
Bawaslu Bali ogah ambil jeda. Bagi mereka, masa setelah pemilihan bukan waktu buat santai, tapi ruang strategis buat evaluasi dan geser fokus. Dari yang tadinya sibuk “nindak” pelanggaran, sekarang fokus ke “pencegahan” lewat edukasi publik yang lebih segar.
Ketut Ariyani, Koordinator Divisi Pencegahan Bawaslu Bali, tegas bilang kalau pasukannya harus tetap siaga 24/7. Siaga di sini bukan cuma soal teknis, tapi soal gimana merespons dinamika sosial-politik yang berubah cepat.
“Kesiapsiagaan kita nggak boleh kendor. Di masa pasca-election ini, kita wajib punya inovasi baru buat sebar informasi ke warga. Ini krusial banget,” tegas Ariyani, Senin(9/2) di Kantor Bawaslu
Ariyani sadar betul, kalau gaya komunikasinya masih pakai bahasa birokrasi yang kaku. Pesan pengawasan nggak bakal sampai ke anak muda. Tantangannya adalah gimana bikin obrolan demokrasi jadi lebih nyambung sama realitas sehari-hari.
Bawaslu Bali nggak cuma pengen kasih info, tapi pengen bangun “kesadaran kritis”. Biar warga paham aturan bukan cuma karena takut sanksi, tapi karena peduli sama keadilan. Pencegahan ini pun dianggap sebagai “kerja budaya” jangka panjang yang harus hadir di ruang digital sampai ke forum diskusi lokal.
Intinya, Bawaslu Bali pengen demokrasi nggak cuma dirayain lima tahun sekali, tapi dirawat setiap hari biar akarnya makin kuat di masyarakat! (*GR)



