BeritaLingkunganPendidikan

Inovasi Pengomposan TDA Hemat Biaya

Alternatif Solusi Sampah Perkotaan

Masyarakat perkotaan dan perdesaan kini memiliki alternatif solusi penumpukan sampah organik. Solusi ini sangat efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, metode ini juga terjangkau bagi kantong masyarakat. Akademisi Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., memperkenalkan sebuah inovasi baru. Beliau menciptakan metode pengomposan in-situ dengan Tambahan Dekomposer Alami (TDA). Oleh karena itu, masyarakat bisa mengaplikasikannya secara mandiri pada skala rumah tangga dengan mudah.

Kolaborasi KKN Unwar dan Desa Sanur Kauh

Muliarta menyampaikan paparan teknologi tepat guna tersebut secara langsung kepada warga. Ia berbicara dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah berbasis sumber. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unwar menyelenggarakan acara bermanfaat ini. Mereka lalu berkolaborasi dengan warga serta perangkat desa di Desa Sanur Kauh, Denpasar, Bali. Kemudian, kegiatan edukasi tersebut berlangsung dengan lancar pada Jumat (28/8/2026).

Mendobrak Stigma Rumitnya Membuat Kompos

Muliarta mengungkapkan latar belakang pengembangan metode TDA in-situ dalam sesi pemaparannya. Padahal, ia melihat fenomena keengganan masyarakat serta para petani mengolah bahan buangan organik. Anggapan umum selama ini menilai proses pembuatan kompos sangat rumit. Kegiatan tersebut membutuhkan waktu lama serta berbiaya tinggi. Akibatnya, masyarakat berpikir harus membeli wadah komposter dan cairan bioaktivator pabrik yang mahal.

“Keengganan mengolah sampah organik selama ini bermula dari anggapan bahwa pengomposan itu padat karya dan mahal karena harus membeli aktivator buatan pabrik serta menyiap fasilitas khusus. Metode TDA in-situ ini saya kembangkan untuk mendobrak stigma tersebut. Saya ingin membuktikan bahwa pengomposan bisa dibuat sangat sederhana, mudah dipraktikkan, murah dari segi biaya, cepat proses degradasinya, dan menghasilkan produk kompos matang berkualitas tinggi,” ujar Muliarta di hadapan warga dan mahasiswa KKN Unwar.

Manfaatkan Sumber Daya Alam Gratis

Penggunaan dekomposer alami menjadi pilar utama efisiensi inovasi ini. Bahan tersebut sangat melimpah dan siap pakai di lingkungan sekitar. Maka dari itu, Muliarta menerangkan bahwa masyarakat tidak perlu lagi membeli agen pengurai komersial. Sebab, alam telah menyediakan konsorsium mikroorganisme pengurai secara gratis. Warga bisa memperoleh dekomposer alami langsung dari tanah humus yang kaya mikroba lokal. Selanjutnya, kotoran ternak atau kompos matang bisa menjadi inokulan alami untuk mempercepat dekomposisi.

“Berdasarkan kajian ilmiah, dekomposer lokal yang ada di alam memiliki keunggulan adaptasi lingkungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dekomposer komersial atau impor yang berasal dari luar daerah. Mikroba alami tanah dan kotoran ternak di sekitar kita sudah terbiasa bersimbiosis dan merombak bahan organik lokal secara alami, sehingga proses dekomposisi dapat berjalan jauh lebih optimal dan efisien,” kata pria asal Dawan, Klungkung ini yang juga merupakan Wakil Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Provinsi Bali.

Berdayakan Barang Bekas Rumah Tangga

Selain menekan pengeluaran agen pengurai, metode TDA in-situ memberikan keluwesan sarana pengomposan. Caranya adalah dengan memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar pemukiman. Oleh karena itu, Muliarta menekankan bahwa masyarakat tidak perlu membeli tabung komposter khusus untuk memilah sampah.

“Tempat pengomposan tidak perlu mahal. Kita bisa memanfaatkan barang bekas di rumah seperti kampil beras bekas atau karung goni yang memiliki sirkulasi udara alami sangat baik, ember plastik bekas cat yang diberi lubang aerasi di bagian bawah dan sisinya, hingga drum plastik atau gentong bekas untuk penampungan skala besar,” tutur Muliarta memaparkan pilihan sarana pengomposan.

Teknik Penumpukan Berlapis yang Praktis

Secara teknis operasional, pengomposan metode TDA menerapkan sistem penumpukan berlapis yang sangat praktis. Pertama, warga memotong kecil-kecil sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran dan dedaunan. Kemudian, mereka memasukkan potongan tersebut ke dalam wadah pilihan. Setelah itu, setiap ketebalan tumpukan sampah tertentu mendapatkan lapisan dekomposer alami berupa tanah humus.

Muliarta menambahkan bahwa kelembapan tumpukan sampah harus berada pada rentang ideal 40 hingga 60 persen. Tahap perawatan kunci lainnya adalah pembalikan tumpukan secara berkala. “Pambilan cukup dilakukan seminggu sekali untuk memasok oksigen ke dalam tumpukan tanpa menyita banyak waktu dan tenaga. Dengan menjaga kelembapan dan pembalikan rutin setiap 7 hari, kompos akan matang sempurna dalam kurun waktu 30 hingga 35 hari. Ciri kematangannya terlihat dari teksturnya yang remah, warnanya yang hitam kecokelatan, serta baunya yang segar khas aroma tanah,” terangnya secara rinci.

Berawal dari Solusi Limbah Jerami Sawah

Namun, Muliarta membeberkan sejarah awal mula penemuan model pengomposan ini di balik kemudahannya. Awalnya, ia meneliti dan mengembangkan teknologi TDA in-situ khusus untuk memecahkan persoalan jerami padi. Kebiasaan sebagian petani membakar jerami pascapanen memicu lahirnya metode ini. Petani membakar jerami karena biaya angkut sangat mahal. Oleh karena itu, ia menciptakan metode pengomposan langsung di lokasi lahan persawahan.

“Awalnya riset ini dirancang untuk penanganan jerami di sawah agar petani tidak perlu mengangkut limbah keluar lahan maupun membeli bioaktivator pabrikan. Namun melihat besarnya potensi sampah organik rumah tangga yang selama ini membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), konsep dasar TDA ini kami modifikasi sedemikian rupa sehingga sifatnya sangat fleksibel dan adaptif untuk diterapkan di pekarangan rumah tangga,” ungkap akademisi Unwar.

Legalitas Hukum dan Hak Paten Resmi

Rekam jejak akademis dan legalitas hukum yang kuat mendukung kredibilitas Dr. I Nengah Muliarta. Ia kini memegang hak paten resmi atas karya inovasi berjudulkan “Komposisi Mikroba Perombak Jerami”. Sumber isolat menjadi keunggulan utama dari formulasi mikroba dalam paten tersebut. Bahkan, ia mengisolasi secara murni seluruh jenis mikroorganisme pengurai dari lingkungan lokal Bali. Karakteristik ini menjadikan mikroba tersebut sangat tangguh menghadapi iklim tropis Indonesia.

Wujudkan Kemandirian Sampah dari Sumber

Muliarta berharap masyarakat Desa Sanur Kauh mulai membangun kemandirian mengolah sampah. Pelaksanaan sosialisasi dari mahasiswa KKN Unwar menjadi jalan untuk mencapai target tersebut. Metode TDA terbukti mampu mengurangi volume sampah ke TPA secara signifikan. Selain itu, pengolahan ini memberikan nilai tambah ekonomi berupa pupuk organik berkualitas untuk mendukung urban farming.

Pelatihan ini pun mendapat apresiasi tinggi dari warga setempat. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Sanur Kauh, Ni Wayan Sudani, menyampaikan pandangannya. Inovasi akademisi Unwar sangat sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat saat ini.

“Selama ini kami di masyarakat hanya diminta mengomposkan dan sekadar diberikan compost bag, tetapi tidak pernah diberikan instruksi atau cara menggunakannya dengan benar. Yang terjadi selama ini hanya sebatas imbauan tanpa adanya penjelasan tahapan pengomposan,” kata Ni Wayan Sudani.

Oleh karena itu, ia menyambut positif materi pelatihan karena warga mendapatkan panduan konkret. “Materi hari ini memberikan tahapan yang sangat jelas dengan teknik yang sederhana, murah, mudah, praktis, dan gampang dipahami oleh ibu-ibu rumah tangga. Apalagi inovasi ini memberi solusi tanpa mengharuskan warga membeli peralatan atau bahan tambahan mahal. Kita hanya memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar kita, mulai dari tanah, kompos matang, hingga kotoran ternak sebagai dekomposer alami,” tambahnya. (gr*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *