Opini

Opini: Kedaulatan Rakyat atau Arisan Jabatan? Silat Lidah Pilkada Lewat DPRD!

Jurus “Kata Bersayap” Konstitusi, Silat Lidah di Balik Kata Demokratis

Bayangin kita lagi nongkrong sambil seruput kopi, terus buka kitab suci negara kita. Di sana ada frasa sakti yang bunyinya: “Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis”. “Dipilih secara demokratis”, kedengarannya sih gagah dan berwibawa, ya? Tapi aslinya, itu adalah jurus silat lidah paling licin yang pernah dibuat

Kata “Demokratis” di situ ibarat pintu yang nggak punya grendel. Dia bisa diayun ke mana saja sesuai selera mereka yang lagi pegang kekuasaan. Kalau mereka lagi butuh suara rakyat buat pamer ke dunia luar, pintunya dibuka lebar ke arah pemilihan langsung. Tapi kalau dompet negara lagi tipis atau para elit lagi pengen kongkalikong dengan tenang, pintunya tinggal diayun pelan ke arah gedung dewan. Alasannya? Ya itu tadi, karena dewan juga dianggap “produk demokrasi”.

Ini yang bikin Pekak sering geleng-geleng kepala sambil ngaduk kopi. Frasa itu dibikin “bersayap” supaya bisa terbang ke mana saja tanpa melanggar aturan. Masalahnya, pas sayapnya terbang ke arah gedung dewan, rakyat yang punya kedaulatan asli malah ditinggal di bawah cuma buat jadi penonton. Kita disuruh percaya kalau suara kita sudah diwakilin sempurna, padahal di dalam sana mungkin lagi ada arisan jabatan yang kita nggak tahu ujung pangkalnya.

Bagi kita yang sudah kena radiasi plutonium, kita tahu kalau kedaulatan itu nggak boleh sekadar dititip lewat kata-kata bersayap. Kalau cuma dibilang demokratis tanpa ada kata “langsung”, itu ibarat kita pesan es jeruk Moena Fresh tapi yang datang cuma gelas kosong yang ada bau jeruknya doang. Harusnya, kedaulatan itu ya kita yang pegang, kita yang tentukan, dan kita yang jalankan tanpa perlu lewat filter-filter elit yang sering kali jalurnya malah buntu buat aspirasi rakyat kecil.

Pilkada Lewat DPRD,  Kedaulatan Rakyat atau “Titip Salam” yang Berujung Boncos?

Dunia politik kita lagi rame. Ada wacana Pilkada mau dibalikin ke DPRD. Katanya sih biar hemat, biar nggak ribut. Tapi, kalau kita tanya sama “Mbah-Mbah” filsuf yang aslinya punya sertifikat kedaulatan, mereka mungkin bakal keselek kopi kuantum.

Bayangin Jean-Jacques Rousseau lagi duduk santuy di pojokan warung. Dia pasti bakal gebrak meja: “Woy! Kedaulatan itu nggak bisa dipaketin lewat kurir, apalagi cuma titip salam lewat wakil rakyat!” . Bagi Mbah Rousseau, rakyat itu bosnya. Kalau pemilihan bupati atau gubernur ditarik ke gedung dewan, itu namanya “erosi kedaulatan”. Rakyat cuma jadi bos pas hari pencoblosan anggota dewan doang, sisanya? Kita cuma jadi penonton bayaran yang cuma bisa liat elit politik tepuk-tepuk pundak sambil bagi-bagi kursi. Kedaulatan rakyat jadi “mati suri” di dalam gedung yang AC-nya dingin banget itu.

Lalu ada John Locke yang bakal nyinyir sambil benerin kacamatanya. Konsep dia kan Social Contract (Kontrak Sosial). Rakyat kasih mandat ke pemerintah itu ibarat kasih kunci rumah buat dijagain. Nah, kalau DPRD yang milih kepala daerah, itu ibarat kita kasih kunci rumah ke “orang kepercayaan”, eh malah dia yang nentuin siapa yang boleh tidur di kamar utama tanpa nanya kita. Ini namanya “putus kontrak batin”. Rakyat nggak punya ikatan apa-apa sama pemimpinnya. Kalau pemimpinnya ngaco, rakyat cuma bisa bilang, “Emang gue yang milih? Kan kagak!”

Jangan lupa Mbah Montesquieu. Dia yang paling takut kalau kekuasaan itu numpuk di satu tempat. Kalau DPRD (legislatif) yang milih kepala daerah (eksekutif), maka garis pemisah itu jadi burem kayak kaca kena uap air panas. Kepala daerah bakal jadi “anak buah” atau boneka dewan. Nggak ada lagi yang namanya saling awasi (checks and balances). Yang ada malah “arisan jabatan”. Rakyat? Ya tetep jadi pemandu sorak di luar gedung.

Kesimpulan dari Pekak, Pilkada lewat DPRD itu ibarat kita mau minum Es Jeruk Moena Fresh tapi yang milih jeruknya orang lain, yang meres orang lain, yang minum juga orang lain. Kita cuma dapet apa? Dapet baunya doang! Kedaulatan rakyat itu harus panas, harus berasa, dan harus dipegang sendiri. Jangan mau kedaulatan kita “dikoskan” ke gedung dewan yang pintu gerbangnya aja sering dikunci kalau rakyat mau lewat.

Syarat Mutlak Kedaulatan Bisa “Dititip”: Jangan Sampai Rakyat Rugi Bandar!

Kalau kita bicara soal kedaulatan rakyat yang diwakilkan, ibaratnya kita lagi nitipin hal paling langka ke tangan orang lain. Mesti dipastiin ada:

Hubungan Batin Tanpa Putus: Si penerima titipan harus punya ikatan yang kuat sama pemilik aslinya. Wakil rakyat itu harus jadi saluran napas rakyat, bukan malah jadi sumbat aspirasi. Kedaulatan bisa diwakilkan hanya jika si wakil bertindak sebagai Pelayan, bukan malah ngerasa jadi Majikan Baru.

Tombol Darurat (Recall): Harus ada mekanisme tarik mandat yang gampang. Kita nggak bisa bilang kedaulatan itu diwakilkan kalau kita cuma milih sekali terus disuruh diem lima tahun. Selama wakil rakyat lebih takut sama Ketua Umum Partainya dibanding sama rakyat, maka syarat perwakilan itu gugur secara hakiki.

Transparansi Harga Mati: Nggak boleh ada ruang gelap atau bisik-bisik rahasia di gedung dewan kalau urusannya nasib orang banyak. Tanpa transparansi, perwakilan cuma jadi topeng elit politik untuk ngerampok hak rakyat secara halus.

Sepertinya syarat itu belum terpenuhi deh.

Pekak pernah berpesan sambil ngelus sarungnya ” kedaulatan rakyat itu ibarat matahari. Kamu bisa titip orang buat jagain cahayanya biar nggak redup, tapi kalau orang itu malah pake kaca film gelap biar rakyat nggak bisa liat matahari lagi, ya mending ambil balik aja mandatnya sebelum dunia jadi gelap gulita!”

Salam sehat dari KIPP Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *