REDAKSIBALI.COM– Publik tidak boleh hanya memandang Laut Bali sebagai latar belakang keindahan pariwisata semata. Di balik birunya air, terdapat urat nadi kehidupan masyarakat pesisir, sumber ekonomi, ruang budaya, sekaligus masa depan Bali. Oleh karena itu, gerakan bersama harus menjadi motor utama untuk menjaga kebersihan laut dan lingkungan pesisir.
Menyikapi hal itu, Yayasan Damuh Dharma Bali menggelar kegiatan Sosialisasi Lingkungan Pesisir dan Kebersihan Laut. Acara strategis ini mendapat dukungan penuh dari PT Pelindo pada Kamis (17/9). Kegiatan edukasi ini berlangsung di Balai Serbaguna Mutiara Jimbaran, Bali.
Acara sosialisasi menghadirkan dua narasumber yakni Anggota Komisi VI DPR RI, I GN Kesuma Kelakan, ST., M.Si. Dan I Wayan Hardika, SH., MH., yang mewakili kelompok pencinta lingkungan pesisir.
Dalam pemparannya Kesuma Kelakan mengajak para peserta melihat persoalan lingkungan pesisir secara lebih luas. Keberadaan sampah laut, pencemaran, hingga rendahnya kesadaran masyarakat memiliki dampak yang sangat masif. Persoalan serius ini berkaitan langsung dengan ekonomi masyarakat, keberlanjutan pariwisata, kesehatan lingkungan, serta citra Bali di mata dunia.

Ancaman Sampah dan Panggilan Menjaga Aset Bersama
Dalam sosialisasi tersebut, IGN Kesuma Kelakan yang akrab dipanggil Alit Kelakan menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat. Beliau mengingatkan bahwa masyarakat harus memandang laut sebagai aset bersama yang wajib mereka jaga secara berkelanjutan.
Sebab, Bali memiliki tingkat ketergantungan yang sangat kuat terhadap laut dan kawasan pesisir. Sektor pariwisata, perikanan, aktivitas ekonomi, hingga berbagai kegiatan sosial budaya tidak dapat lepas dari keberadaan laut. Oleh karena itu, pelaku kepentingan tidak boleh menjalankan pembangunan ekonomi dengan mengorbankan kelestarian lingkungan.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa laut bukan merupakan tempat sampah terakhir. Sebaliknya, laut merupakan ruang kehidupan yang nyata bagi masa depan Bali. Pesan ini menjadi semakin krusial mengingat posisi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Keindahan pantai merupakan magnet utama daya tarik Bali. Namun demikian, keberlanjutan lingkungan akan menghadapi tantangan berat apabila persoalan sampah tidak mendapat penanganan serius.
Kolaborasi Dunia Usaha dan Fondasi Tri Hita Karana
Sementara itu, I Wayan Hardika, SH., MH., menyoroti pentingnya keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat. Menurut Hardika, gerakan menjaga laut tidak cukup hanya bertumpu pada pemerintah atau komunitas lingkungan semata. Masyarakat pesisir, pelaku usaha, generasi muda, wisatawan, dunia pendidikan, hingga korporasi harus memikul tanggung jawab yang sama.
“Jangan menunggu laut menjadi rusak baru kita bergerak. Jadi, kalau kita masih bisa mencegah, maka sekaranglah waktunya,” ucap Hardika.
Hardika menilai masyarakat Bali memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat. Penerapan nilai Tri Hita Karana serta kearifan lokal dapat menjadi fondasi kokoh untuk membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dengan demikian, aksi menjaga laut bukan sekadar agenda kebersihan biasa, melainkan bagian dari upaya merawat identitas Bali.
Keterlibatan PT Pelindo dalam mendukung kegiatan ini menunjukkan peran strategis dunia usaha. Kolaborasi multipihak sangat penting untuk membangun ekosistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Selanjutnya, dukungan perusahaan harus berkembang menjadi program jangka panjang seperti edukasi warga, pengurangan sampah dari sumbernya, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.
Sebagai penutup, sosialisasi ini membawa pesan tegas bahwa Bali tidak boleh hanya menjual keindahan laut saja. Pembangunan Bali ke depan harus menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan kemampuan menjaga alam bagi generasi berikutnya. Gerakan nyata ini harus mulai dari hal sederhana seperti mengurangi plastik sekali pakai dan mengedukasi keluarga. Jangan sampai anak cucu kita kelak mengenal laut Bali hanya dari cerita masa lalu. Sebab, menjaga laut berarti menjaga Bali, dan merawat lingkungan hari ini berarti menjamin masa depan.(gr*)


