REDAKSIBALI.COM – Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Parta, memberikan catatan kritis menjelang HUT ke-81 RI. Beliau menyoroti potret buram sektor ketenagakerjaan nasional saat ini. Secara khusus, Parta mengkritik tingginya angka pengangguran terdidik di tengah masifnya program pengiriman pekerja ke luar negeri.
Sebagai gambaran, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 menunjukkan total penganggur mencapai 7,22 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,03 juta orang merupakan lulusan Diploma 4 hingga Strata 3. Sementara itu, pemerintah justru sibuk mempersiapkan pengiriman 100 ribu tenaga kerja per tahun ke Jepang.
Menurut Nyoman Parta, program ekspor tenaga kerja tersebut merupakan solusi taktis yang baik. Namun, langkah ini sekaligus menjadi alarm keras bagi kedaulatan ekonomi nasional.
“Kita tentu senang anak muda mendapat pekerjaan di luar negeri. Tetapi, apa strategi kita untuk menciptakan pekerjaan berkualitas di dalam negeri?” ujar Parta, Sabtu (15/8/2026).
Parta menambahkan, pengiriman ini berpotensi menguras satu juta generasi terbaik bangsa dalam sepuluh tahun. Oleh karena itu, Indonesia jangan sampai hanya menjadi pemasok tenaga produktif untuk negara lain.
Enam Akar Masalah Pengangguran Terdidik
Nyoman Parta membeberkan enam faktor krusial yang menyebabkan menumpuknya sarjana yang menganggur di Indonesia:
- Kurikulum Sekolah: Pendidikan belum berbasis wirausaha dan hanya berorientasi mencetak pekerja kasar.
- Pertumbuhan Ekonomi: Angka pertumbuhan lima persen tidak mampu menyerap ledakan angkatan kerja baru.
- Ketidaksesuaian Industri: Jurusan di perguruan tinggi tidak sejalan dengan kebutuhan riil dunia kerja.
- Disrupsi Teknologi: Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan robotik menggeser tenaga manusia secara masif.
- Iklim Investasi: Birokrasi berbelit dan tarif pajak tinggi menciptakan ekonomi biaya tinggi.
- Pungli dan Korupsi: Lemahnya kepastian hukum memicu ketidaknyamanan bagi para investor.
Rekomendasi Solusi untuk Pemerintah dan Kampus
Untuk mengatasi masalah ini, legislator asal Bali tersebut mendesak pemerintah mengambil langkah konkret secara integratif:
- Revitalisasi Manufaktur: Pemerintah harus fokus pada pertumbuhan sektor produktif bernilai tambah yang padat karya.
- Reformasi Regulasi: Instansi terkait wajib mempermudah investasi dan memberantas pungli secara tegas.
- Penerapan Link and Match: Perguruan tinggi wajib menyelaraskan kurikulum dengan dinamika industri terkini.
“Pergilah bekerja dan belajarlah membangun jaringan di luar negeri. Namun, pemerintah jangan menjadikan program ini sebagai pelarian akibat gagal menyediakan lapangan kerja domestik,” pungkas Parta. (GR*)


