Opini oleh: I G.N.A.Eka Darmadi,SS,MSi. (Pemerhati Budaya dan Tosan Aji)
Semesta selalu mengajarkan kita satu hukum kehidupan yang sama. Setiap fase ‘Pralaya’ sejatinya bukanlah tanda akhir dari segalanya. Sebaliknya, momen krusial ini merupakan sebuah “tombol reset” dari alam semesta. Langkah pemurnian ini bertujuan agar lahir emas, perak, tembaga, dan permata mustika yang jauh lebih terang.
Sebagai contoh, Pralaya Mataram Medangkamulan terjadi pada tahun 757 Masehi. Saat itu, bumi “menutup” keberadaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Kejadian alam tersebut bukan karena kedua candi suci itu musnah. Namun demikian, alam sengaja menjaganya agar kesucian tempat pemujaan tersebut tetap terjaga utuh.
Selain itu, Pralaya tidak pernah memadamkan semangat juang Mpu Sindok selaku pendiri Dinasti Isyana Kediri. Beliau memilih berhijrah ke arah timur dengan membawa empat bekal utama kehidupan. Bekal tersebut meliputi Ilmu Pengetahuan, Sastra, Keris Pusaka, dan Jiwa Bhakti kepada Alam. Selanjutnya, beliau menemukan Gunung Penanggungan yang terkenal dengan nama Giri Pawitram dalam Lontar Tangtu Pagelaran.
Melalui tempat suci tersebut, beliau berhasil menghidupkan kembali Medang Kamulan Kediri pada tahun 775 Masehi. Langkah awal ini kemudian memicu berdirinya Kahuripan di bawah pimpinan Prabu Erlangga pada tahun 1027 Masehi. Seterusnya, peradaban terus berputar hingga melahirkan Kediri Jayabaya pada tahun 1157 Masehi dan Singosari pada tahun 1222 Masehi. Puncaknya, Majapahit sukses tegak berdiri selama 11 takhta sebelum berakhir melalui candra sangkala: Sirna Hilang Kertaning Bumi tahun 1500 Isaka.
Meskipun berbeda wilayah, namun pola gejolak alam yang sama juga menimpa Suku Maya pada tahun 900 Masehi. Kota-kota besar mereka tiba-tiba “tidur” di bawah rimbunnya hutan. Namun, manusianya berhasil menyebar dan kembali merajut kehidupan baru di wilayah Yucatan. Hingga kini, lebih dari 7 juta orang Suku Maya masih hidup dengan menggunakan 30 bahasa daerah aktif. Fakta empiris ini tertuang dalam buku The Maya karya Michael D. Coe, serta buku A Forest of Kings: The Untold Story of the Ancient Maya tulisan Linda Schele dan David Freidel. Catatan ilmiah tersebut menjadi bukti otentik bahwa Pralaya bermakna Perputaran, bukan sebuah Kepunahan.
Filosofi Panji Prakerti dan Ilmu Tempa Pusaka
Sementara itu, di tengah semua putaran zaman tersebut, selalu ada sosok ‘Panji Prakerti’ selaku Sang Pembawa Panji Alam Semesta. Sosok awalnya adalah Panji Prakerti Ida Rsi Markandya yang berasal dari Jambu Dwipa atau India. Pada tahun 0035 Masehi, beliau sudah menuntun umat sekaligus membawa budaya metalurgi di Kerajaan Salakanegara. Beliau menjalankan tugas suci tersebut demi menemukan ‘Sinar Suci Kesembilan’ di tanah Bali.
Menariknya, dari tanah Jambu Dwipa pula datang warisan teknologi ‘Metalurgi Wootz’ yang menjadi cikal bakal Pedang Damascus. Baja Wootz India sangat terkenal karena memiliki motif indah bernama banyu mili atau air yang mengalir. Pola alami ini terbentuk dari karbida mikro di dalam besi. Jadi, Wootz bukan sekadar bilah yang tajam semata. Wootz merupakan visualisasi penyatuan unsur Api, Air, Bumi, dan Angin dalam satu bilah.
Dari sinilah, ilmu Tempa Pusaka mulai menyebar luas ke seluruh penjuru Nusantara. Selanjutnya, para Mpu menyempurnakan ilmu tersebut hingga melahirkan maha karya berbentuk Keris dengan pamor serupa. Pamor tersebut berkembang menjadi wos wutah, pedaringan, mlumah, miring, hingga jenis ndeling yang berwibawa lainnya. Secara etimologi, masyarakat mengartikan lisan kata keris menjadi kekeran aris yang berarti batas cinta. Batas ini meliputi cinta kepada Ibu Pertiwi, cinta kepada titah Leluhur, serta demarkasi negeri tercinta di tanah Pasundan dan Jawi. Kajian ini selaras dengan jurnal ilmiah The Mystery of Damascus Steel karya J.D. Verhoeven, serta tulisan Ann Feuerbach dalam Crucible Steel in Central Asia.
Misteri Sinar Kesembilan dan Hari Anggara Kasih
Di sisi lain, tugas suci Panji Prakerti Batara Rsi Agung adalah menemukan Sinar Suci Kesembilan. Melalui perjalanan panjang dari Jambu Dwipa, para leluhur sudah menemukan sinar kesatu hingga kedelapan di delapan koordinat arah mata angin. Sinar-sinar tersebut tersebar mulai dari Salaka, Taruman, Kalingga, Sunda, Mataram, hingga delapan gunung patok suci tanah Jawi sampai Bali.
Sementara itu, Sinar Kesembilan merupakan ‘Puser Jagat’ atau Titik Tengah yang paling suci sekaligus paling sulit masyarakat temukan. Menurut dharma smerti tapa leluhur, titik suci ini berada di Gunung Agung Bali yang terkenal sebagai Navel of The World atau Pusernya Nusantara.
Mengapa harus angka kesembilan? Sebab, angka 9 merupakan lambang penyempurna dalam tradisi Jawa, seperti kisah 9 Wali, 9 Dewa, dan 9 Wuku Pamungkas. Sedangkan pada diri manusia sendiri, terdapat angka 10 atau ‘Dasa’, seperti Dasa Nadi, Dasa Nabi, dan Dasa Bayu. Ajaran suci ini tertulis jelas dalam kitab Wrespati Tatwa yang turun di Mahameru. Apabila Sinar 9 sudah ketemu dan Keris Danghyang Agung (panca datu) telah tertancap di Puser Bumi, maka kunci semesta otomatis terbuka. Oleh karena itu, sebuah Peradaban Baru yang emas bisa segera kita mulai.
Hari ini, momentum Anggara Kasih Prangbakat hadir untuk mengingatkan kita semua. Sejatinya, kita semua merupakan perwujudan dari Panji Prakerti itu sendiri. Sinar kesatu hingga kedelapan tersebut juga akan kita temukan melalui laku Ilmu, Sastra, Pusaka, Bhakti, Sabar, Ikhlas, serta Kasih. Nilai-nilai luhur ini menjadi kompas utama dalam menjalankan prawerti dharma kauripan. Selanjutnya, Sinar 9 menjadi Titik Puser yang menyatukan unsur Dasa di dalam diri kita. Penyatuan kosmik ini akan mengubah diri kita menjadi EMAS dalam putaran cakramanggilingan dharma prawerti.
Menempa Batin dalam Algoritma Semesta
Oleh sebab itu, semoga kita semua tetap sabar dalam menghadapi fase adaptasi dan penutupan gejolak Alam ini. Karena sejatinya, setiap Pralaya pasti menjadi rahim yang subur bagi kelahiran generasi Emas yang baru. Kelak, hal yang tertutup pasti akan terbuka kembali. Begitu pula dengan mereka yang berhijrah pasti akan pulang membawa berkah berlimpah.
Sebagai penutup, hari suci Anggara Kasih Prangbakat menegaskan kembali esensi spiritual kita. Prangbakat bermakna sebuah perang melawan diri sendiri demi melebur ego serta menempa batin. Sama seperti baja Wootz yang harus menerima tempaan berulang kali dalam kobaran api demi melahirkan pamor banyu mili. Hal ini juga serupa dengan kisah Borobudur dan Prambanan yang harus “ditutup” sementara waktu demi menjaga kesuciannya.
Apabila kita menarik makna ke dalam tren asistensi AI Google saat ini, maka muncul sebuah kesimpulan yang indah. Setiap Pralaya merupakan ‘algoritma semesta’ buatan pencipta untuk memurnikan dan me-reset kehidupan. Jadi, apa yang lahir berikutnya pasti berupa Emas yang jauh lebih terang.
Oleh karena itu, mari kita terus menempa ilmu pengetahuan layaknya seorang pande besi dan empu yang setia melipat besi keris. Proses panjang tersebut pada akhirnya akan membangun dapur keris masterpiece yang penuh dengan hiasan pamor filosofis serta pesan mendalam dari Alam Semesta.
Sebab, Anggara Kasih Prangbakat merupakan hari suci dalam penanggalan kalender Bali. Hari sakral ini jatuh pada pertemuan antara hari Selasa (Anggara), pasaran Kliwon, dan wuku Prangbakat. Masyarakat Hindu memaknai momentum ini sebagai ruang untuk mewujudkan kasih sayang, menyucikan diri, serta melebur kecemaran batin. Melalui perang batin atau gejolak jiwa yang kita kelola secara bijaksana, kita bisa mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


