REDAKSIBALI.COM – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali, Ketut Kariyasa Adnyana, menghadiri peringatan Kudatuli. Acara peringatan 30 tahun Tragedi 27 Juli 1996 tersebut berlangsung pada Sabtu (18/7). Peserta memadati Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki dalam momen refleksi tersebut.
Kariyasa hadir membersamai Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Mereka mengikuti Public Lecture bertajuk “Jalan Buntu Reformasi”. Agenda ini menjadi bentuk penghormatan nyata kepada para pejuang demokrasi. Selain itu, kegiatan tersebut bertujuan mengenang seluruh korban Kudatuli.
Meskipun 30 tahun telah berlalu, Kariyasa menegaskan luka sejarah tidak boleh sirna. Menurutnya, Kudatuli menjadi pengingat bahwa demokrasi lahir melalui perjuangan berdarah. Banyak orang menunjukkan pengorbanan serta keberanian demi tegaknya kebenaran masa lalu.
Legislator asal Buleleng tersebut mengingatkan agar oligarki tidak membajak reformasi. Kekuatan anti-rakyat tidak boleh merusak tatanan yang lahir dari air mata. Oleh karena itu, demokrasi harus tetap hidup dan berpihak penuh kepada rakyat. Pihaknya menolak dominasi segelintir elit yang hanya memikirkan keuntungan sepihak.
Ia juga menyampaikan simpati mendalam bagi keluarga korban yang terus menuntut keadilan. Kariyasa menyatakan bahwa PDI Perjuangan lahir dari rahim perlawanan terhadap otoritarianisme. Maka dari itu, partai berlambang banteng tersebut tidak akan pernah mengabaikan sejarah. Ia berharap para pejuang yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
Kehadiran Ketut Kariyasa bersama Hasto Kristiyanto menegaskan sikap tegas partai. Mereka mengawal penuntasan pelanggaran HAM masa lalu secara berkomitmen. Langkah ini sekaligus menjadi gerakan melawan pembajakan demokrasi oleh kekuatan modal.
Keluarga korban, aktivis 98, akademisi, dan kader partai turut meramaikan acara tersebut. Public Lecture ini akhirnya sukses menjadi momentum refleksi bersama. Masyarakat harus terus menjaga jalan demokrasi dari cengkeraman buruk pihak oligarki.(GR*)


