Opini Oleh: I Dewa Putu Agustiantow Sukahet
Zaman sekarang, pola hidup kita dan anak-anak sudah jauh berbeda. Coba perhatikan di sekitar kita: anak-anak zaman now lebih banyak menghabiskan waktu menatap layar smartphone ketimbang bermain di luar rumah.
Teknologi memang bikin semuanya makin mudah. Tapi di sisi lain, bahaya juga mengintai dari balik layar itu. Mulai dari cyberbullying (perundungan di media sosial), penipuan daring, paparan konten yang tidak pantas, sampai eksploitasi anak. Ancaman buat anak-anak kita sekarang tidak cuma ada di jalanan atau ruang publik, tapi sudah masuk ke dalam kamar mereka sendiri melalui jaringan internet.
Melihat kenyataan ini, cara kita melindungi anak juga harus berubah. Kita tidak bisa lagi pakai cara-cara lama yang kaku, lambat, atau baru sibuk bertindak setelah ada kasus yang viral di media sosial. Bali butuh cara baru yang lebih cepat, memanfaatkan teknologi, dan berbasis data.
Lapor Kasus Harus Gampang dan Cepat
Salah satu masalah besar selama ini adalah urusan lapor-melapor yang terkesan ribet. Banyak orang tua atau bahkan si anak sendiri bingung harus adu ke mana. Belum lagi ada rasa takut atau malu jika identitasnya terbongkar.
Padahal, dalam kasus kekerasan terhadap anak, kecepatan tindakan itu nomor satu. Itu sebabnya Bali butuh sistem pengaduan digital yang ramah anak dan simpel digunakan. Cukup lewat aplikasi atau pesan instan di HP, masyarakat bisa langsung melapor. Prinsipnya sederhana: “Mudah Melapor, Aman Melapor, dan Jelas Tindak Lanjutnya.”
Sistem ini nantinya langsung terhubung otomatis ke pihak KPAD, Kepolisian, Dinas Sosial, hingga layanan kesehatan. Jadi, laporan tidak mengendap di meja birokrasi, dan progres penanganannya bisa dipantau secara real-time.
Bikin Kebijakan Pakai Data, Bukan Cuma Katanya
Selama ini, program perlindungan anak sering kali sifatnya cuma kegiatan rutin tahunan atau sekadar reaksi dadakan. Nah, pemanfaatan data bisa mengubah cara kerja ini.
Dengan sistem data terpadu, kita bisa tahu peta masalah anak di Bali secara akurat. Misalnya: daerah mana yang paling rawan kasus kekerasan, jenis kejahatan siber apa yang sedang marak, atau bantuan apa yang paling dibutuhkan korban saat ini.
Data ini bikin pemerintah dan KPAD bisa bikin program yang benar-benar pas sasaran, bukan cuma sekadar “katanya” atau menebak-nebak.
Merangkul Banjar dan Mendengar Suara Anak
Canggihnya teknologi tentu tidak akan ada artinya tanpa peran masyarakat. Di Bali, kita punya kekuatan sosial yang luar biasa di tingkat akar rumput, yaitu Banjar dan Posyandu.
Lewat wadah ini, edukasi soal internet aman (cyber safety) dan pola pengasuhan anak di era digital bisa kita sebarkan secara santai tapi kena ke para orang tua.
Di sisi lain, anak-anak juga harus dilibatkan melalui program seperti GITA MANIK (Gerakan Inspirasi & Tutur Anak Menuju Aspirasi Nyata Inklusif & Kreatif). Dalam penjelasan lain, GITA MANIK dapat dijabarkan dari kata Gita yang berarti suara / nyanyian / tembang dan Manik berarti permata hati / buah hati, dengan program yang bermakna tersebut, kita siapkan ruang digital yang aman agar anak-anak Bali bisa menyampaikan pendapat, kekhawatiran, dan ide-ide mereka. Anak-anak tidak boleh cuma jadi penonton atau objek yang dilindungi, tapi juga didengar suaranya.
Menjaga anak-anak Bali di era digital adalah tugas kita bersama. Dengan memadukan kemudahan teknologi, ketepatan data, dan kepedulian dari lingkungan Banjar, kita bisa memastikan anak-anak kita tumbuh dengan aman, sehat, dan bahagia baik di dunia nyata maupun di dunia maya.



