Opini

Menonton Kemenangan di Rumah Sendiri

Pesta pora sedang berlangsung di setiap sudut negeri. Sorak-sorai kemenangan sepak bola membahana, memenuhi linimasa media sosial dan obrolan warung kopi. Kita, sebagai sebuah bangsa, merasa sedang berada di puncak dunia. Kita merasa telah menjadi hebat.

Kita tentu tidak menutup mata dan wajib mengapresiasi setiap tetesan keringat para pemain di lapangan yang telah memberikan kebanggaan. Perjuangan mereka nyata, dan kegembiraan ini adalah hak publik yang lama dahaga akan prestasi. Namun, justru di tengah mabuk euforia dan puncak kejayaan inilah, akal sehat kita harus tetap terjaga. Pernahkah kita sejenak menepi dan mengajukan satu pertanyaan mendasar: Siapa sebenarnya yang sedang menang, dan panggung siapa yang sedang kita rayakan?

Belakangan ini, formula instan bernama naturalisasi massal dianggap sebagai juru selamat. Orang-orang asing—atau yang akrab kita sebut “bule”—berganti paspor, mengucap sumpah, dan seketika menjelma menjadi bagian dari “kita”. Efeknya instan dan magis. Prestasi meroket, lawan-lawan gemetar, dan harga diri bangsa seolah terangkat dalam semalam.

Namun, ada garis tipis yang memisahkan antara asimilasi yang tulus dan infiltrasi yang halus.

Sejarah dan sosiologi politik telah berkali-kali mengingatkan kita tentang bentuk dominasi gaya baru. Kolonialisme modern tidak lagi datang membawa kapal perang atau senapan. Cara paling efektif untuk menguasai suatu bangsa hari ini adalah dengan cara masuk ke dalam sistemnya, mengadopsi budayanya, dan memakai bajunya. Mereka menguasai kita dengan cara menjadi kita.

Ketika orang luar dengan begitu mudahnya mengambil alih posisi-posisi kunci di panggung tertinggi kita, kewaspadaan kita sering kali runtuh karena mereka sudah memakai emblem yang sama dengan kita. Kita mengira mereka adalah kita, padahal perlahan-lahan kendali, standar, dan masa depan panggung tersebut sedang disetir oleh narasi luar. Kita dibuat bergantung pada kualitas mereka, sambil secara tidak sadar mengerdilkan potensi anak-anak kandung ibu pertiwi sendiri.

Ini adalah bentuk “penjajahan sukarela” yang paling berbahaya, karena korbannya merayakan proses tersebut dengan sukacita. Kita merasa hebat karena mengadopsi mereka, tanpa sadar kita sedang digeser menjadi penonton di rumah sendiri. Berapa banyak talenta lokal yang akhirnya layu sebelum berkembang hanya karena panggungnya telah diisi oleh kepuasan instan berwajah asing?

Mengerem euforia ini bukan berarti kita membenci kemajuan atau menutup diri dari dunia luar. Mengerem pesta pora ini adalah sebuah panggilan darurat bagi logika kita untuk tetap waras. Sebuah bangsa tidak akan pernah benar-benar hebat jika fondasi keberhasilannya dipinjam dari halaman rumah orang lain.

Kemenangan sejati adalah ketika anak-anak yang lahir, tumbuh, dan mengonsumsi air dari tanah ini, mampu berdiri sejajar dengan dunia atas hasil keringat dan didikan kita sendiri. Jangan sampai, ketika peluit panjang tanda pesta berakhir ditiup, kita baru menyadari bahwa rumah kita telah dikuasai sepenuhnya dari dalam, dan kita tidak lagi menyisakan tempat bagi generasi kita sendiri untuk bermimpi.(REDAKSI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *