Berita

GMNI Buleleng Ajak Publik Tolak SARA

REDAKSIBALI.COM – Republik Indonesia kini resmi menginjak usia yang ke-81 tahun. Negara ini berdiri tegak berkat tetesan air mata, keringat, dan darah para pejuang lintas suku. Oleh karena itu, momentum sakral kemerdekaan ini wajib menjadi ruang refleksi mendalam bagi setiap anak bangsa.

Selanjutnya, DPC GMNI Buleleng hadir untuk mengingatkan masyarakat mengenai esensi kemerdekaan sejati. Menurut mereka, kemerdekaan hanya akan bermakna saat seluruh rakyat hidup berdampingan secara damai tanpa ancaman perpecahan.

Bali Sebagai Rumah Kerukunan Organik

Catatan sejarah panjang Pulau Bali telah membuktikan kualitas toleransi di tanah dewata ini. Bali bukan sekadar surga pariwisata dunia yang indah. Lebih dari itu, pulau ini merupakan rumah yang hangat bagi berbagai pemeluk agama dan suku bangsa. Sejak masa lampau, kearifan lokal seperti konsep Tri Hita Karana sukses menjaga keharmonisan hidup bersama.

Memasuki usia baru kemerdekaan ini, GMNI Buleleng mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mempererat rasa kekeluargaan. Kita wajib menyambung asa perjuangan dengan cara menjaga persatuan di atas segala perbedaan.

Menjaga Kesucian Fondasi Kebangsaan

Selain itu, fondasi Bhinneka Tunggal Ika tetap kokoh berdiri berkat pengorbanan tanpa henti dari generasi ke generasi. Warisan luhur ini tidak boleh ternoda oleh percikan konflik sekecil apa pun. Hal tersebut sangat krusial bagi Pulau Dewata yang selama ini menjadi simbol keharmonisan dunia.

Menjaga Bali agar tetap aman dan damai merupakan tanggung jawab kolektif seluruh warga. Langkah nyata ini berfungsi untuk merawat kehormatan bangsa Indonesia. Dengan demikian, semangat persaudaraan dalam perbedaan akan terus hidup abadi di bumi pertiwi.

Ketua DPC GMNI Buleleng, I Kadek Pradhita Ciwa Radhitya, juga memberikan penegasan penting mengenai hal ini. Ia menyebut nilai gotong royong telah mendarah daging dalam keseharian masyarakat lintas budaya. Oleh karena itu, semua pihak wajib menutup rapat ruang bagi segala bentuk provokasi isu SARA. Menjaga kedamaian Bali berarti memperkuat komitmen bahwa perbedaan latar belakang merupakan anugerah yang indah.

Realitas Heterogenitas di Bumi Buleleng

Sementara itu, pandangan nyata datang dari Kabid Organisasi DPC GMNI Buleleng, Sinatriagung Mintojati. Sebagai kader asal suku Jawa yang lama menetap di Bali, ia merasakan langsung keharmonisan organik di Buleleng. Interaksi sosial di wilayah utara Bali ini berjalan sangat heterogen serta inklusif.

Oleh karena itu, ia sangat menyayangkan jika ada oknum yang merusak kerukunan tersebut demi kepentingan sesaat. Publik harus melawan segelintir orang yang sengaja melempar narasi murahan berbasis isu SARA.

Seruan Membumikan Pancasila

Pada bagian penutup, DPC GMNI Buleleng mengajak semua lapisan masyarakat untuk membumikan nilai-nilai Pancasila secara konsisten. Nilai-nilai inilah yang terbukti ampuh memperkuat persaudaraan dalam kehidupan bernegara.

GMNI Buleleng berharapan agar tidak ada lagi rakyat yang tertindas oleh bangsanya sendiri. Harapan tersebut selaras dengan pesan abadi dari Proklamator Bung Karno mengenai tantangan masa depan:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Merdeka! Dirgahayu Republik Indonesia. (gr*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *